Wanna back back again :)
Hehe…maaf baru nulis pengalaman kemarin sekarang.. :)
-------
Wowww…amazing..great…subhanallah! I love this time
Akhirnya, 7 desember 2010, keinginan saya untuk kembali ke candi Cetho terwujud, ditemani 2 teman baik saya, cindy dan sofi, thankyou sist
It was nice experience touring with them. Mulanya sih, tidak merencanakan akan naik sampai puncak, tetapi ketika sudah terperangkap dalam jerat keindahan kebun teh, bukit dan jurang yang curam, yang menggetarkan bulu kuduk, menakutkan namun memiliki kekuatan memikat yang saya rasa tidak akan pernah hilang, kami memutuskan untuk ke puncak candi.
Kata sofi ketika itu, “tanggung lah…”
Sama takjubnya rasanya dengan ketika pertama kali melihat panorama termegah yang pernah saya jumpai. Ketakutan, keterpikatan dan perasaan rindu bercampur jadi satu dengan udara bersih dan segar yang mencuci paru-paru saya yang sesak oleh berbagai masalah. Untuk sementara waktu, “ good bye “ solo..haha.
Hmm…rasanya ngga lucu juga kalau saya hanya mendeskripsikan dengan kata yang tiada mampu dengan nyata melukiskan keindahan Cetho, okelah kalau begitu ngintip pemandangan yang luar biasa ini dulu yuuuk..
Subhanallah…bahkan kamera pun tak mampu merekam dengan sempurna keindahannya…beruntung ya kita punya hati yang akan selalu merekam keindahan yang memikat ini…
Gyahahaha…ini foto kita bertiga…semoga menjadi kenangan yang tak kan terlupa….
Jalan-jalan yang menikung seram, bukit-bukit yang meliuk dengan eksotisnya, candi yang masih terasa mistisnya, ditambah lagi suasana yang masih ‘virgin’ belum terjamah oleh tangan-tangan pebisnis yang selalu mencari keuntungan di setiap objek yang menjanjikan, menjadikan suara saya tercekat di dalam tenggorokan dan ingin sekali melempar kata-kata.. “wooowww..subhanallah”.
Semuanya terasa indah, terasa sempurna, sama ketika pertamakali datang ke sana. Selalu terkejut dan takjub dengan keindahan alamanya, sungguh luar biasa.
Sedikit close back ya…dulu ketika pertama kali dikejutkan oleh jurang2 curam, ketinggian yang menakutkan, dan lampu2 bertebaran, ada keinginan saya harus kembali kesini. ketika ada di puncak tertinggi, di malam tahun baru dengan panorama “lautan lampu” yang luar biasa, ada keinginan lagi, “harus kembali kesini dengan orang-orang tercinta, saat itu saya membayangkan sosok “itu”. Bahkan di puncak tertinggi itu pun, dengan signal seadanya yang hilang timbul, saya menyempatkan diri untuk menghubunginya, memberikan kabar bahwa saya ada di puncak tertinggi sekarang, di malam tahun baru ini dengan keluarga pak dhe dan teman-teman beliau dan dia pun berpesan agar ‘hati-hati’. Saya bahkan tidak meng-sms orang tua saya saat itu, itulah bodohnya saya, malah mementingkan orang lain dibanding orang tua saya ketika itu.
Kini semua benar-benar berbeda, dulu ada perasaan mengikat dan sakit, menjerat, ingin memiliki dan pergi, mengulur,menunggu dan berharap…namun kini yang ada hanya perasaan “ikhlas”. Itulah mengapa saya merasa “lebih” bisa menikmati keindahan Cetho sekarang ini, karena perasaan ikhlas dan lepas. Ternyata sangat tepat bhwa penerimaan dan pengikhlasan akan mendatangkan kebahagiaan.
Lebih lebih dan lebih bahagia dengan kondisi saya yang sekarang. Kebahagiaan saya utuh, bulat penuh ketika rasa syukur atas apapun yang menimpa diri mengalir bersama alunan kehidupan, ketika saya berusaha menggali kebahagiaan yang sebenarnya sudah Allah tumbuhkan di hati saya…dan berpadu dengan nuansa yang luar biasa, yang anggun mempesona, Cetho..akan jadi mahakarya kekayaan hati dari Sang Pencipta untuk hambaNya.
Wlaupun hanya kurang lebih 2 jam menikmati keindahan Cetho, namun hati rasanya tercuci bersih, paru2 rasanya teresusitasi dan otak terhipnotis dengan sempurna, dan satu hal yang kembali saya pikirkan…”harus kembali lagi ”
Tak kan jemu memandangmu
Mahakarya dari seorang Maestro yang Maha Agung
Keindahan yang sempurna
Hehe…maaf baru nulis pengalaman kemarin sekarang.. :)
-------
Wowww…amazing..great…subhanallah! I love this time
Akhirnya, 7 desember 2010, keinginan saya untuk kembali ke candi Cetho terwujud, ditemani 2 teman baik saya, cindy dan sofi, thankyou sist
It was nice experience touring with them. Mulanya sih, tidak merencanakan akan naik sampai puncak, tetapi ketika sudah terperangkap dalam jerat keindahan kebun teh, bukit dan jurang yang curam, yang menggetarkan bulu kuduk, menakutkan namun memiliki kekuatan memikat yang saya rasa tidak akan pernah hilang, kami memutuskan untuk ke puncak candi.
Kata sofi ketika itu, “tanggung lah…”
Sama takjubnya rasanya dengan ketika pertama kali melihat panorama termegah yang pernah saya jumpai. Ketakutan, keterpikatan dan perasaan rindu bercampur jadi satu dengan udara bersih dan segar yang mencuci paru-paru saya yang sesak oleh berbagai masalah. Untuk sementara waktu, “ good bye “ solo..haha.
Hmm…rasanya ngga lucu juga kalau saya hanya mendeskripsikan dengan kata yang tiada mampu dengan nyata melukiskan keindahan Cetho, okelah kalau begitu ngintip pemandangan yang luar biasa ini dulu yuuuk..
Subhanallah…bahkan kamera pun tak mampu merekam dengan sempurna keindahannya…beruntung ya kita punya hati yang akan selalu merekam keindahan yang memikat ini…
Gyahahaha…ini foto kita bertiga…semoga menjadi kenangan yang tak kan terlupa….
Jalan-jalan yang menikung seram, bukit-bukit yang meliuk dengan eksotisnya, candi yang masih terasa mistisnya, ditambah lagi suasana yang masih ‘virgin’ belum terjamah oleh tangan-tangan pebisnis yang selalu mencari keuntungan di setiap objek yang menjanjikan, menjadikan suara saya tercekat di dalam tenggorokan dan ingin sekali melempar kata-kata.. “wooowww..subhanallah”.
Semuanya terasa indah, terasa sempurna, sama ketika pertamakali datang ke sana. Selalu terkejut dan takjub dengan keindahan alamanya, sungguh luar biasa.
Sedikit close back ya…dulu ketika pertama kali dikejutkan oleh jurang2 curam, ketinggian yang menakutkan, dan lampu2 bertebaran, ada keinginan saya harus kembali kesini. ketika ada di puncak tertinggi, di malam tahun baru dengan panorama “lautan lampu” yang luar biasa, ada keinginan lagi, “harus kembali kesini dengan orang-orang tercinta, saat itu saya membayangkan sosok “itu”. Bahkan di puncak tertinggi itu pun, dengan signal seadanya yang hilang timbul, saya menyempatkan diri untuk menghubunginya, memberikan kabar bahwa saya ada di puncak tertinggi sekarang, di malam tahun baru ini dengan keluarga pak dhe dan teman-teman beliau dan dia pun berpesan agar ‘hati-hati’. Saya bahkan tidak meng-sms orang tua saya saat itu, itulah bodohnya saya, malah mementingkan orang lain dibanding orang tua saya ketika itu.
Kini semua benar-benar berbeda, dulu ada perasaan mengikat dan sakit, menjerat, ingin memiliki dan pergi, mengulur,menunggu dan berharap…namun kini yang ada hanya perasaan “ikhlas”. Itulah mengapa saya merasa “lebih” bisa menikmati keindahan Cetho sekarang ini, karena perasaan ikhlas dan lepas. Ternyata sangat tepat bhwa penerimaan dan pengikhlasan akan mendatangkan kebahagiaan.
Lebih lebih dan lebih bahagia dengan kondisi saya yang sekarang. Kebahagiaan saya utuh, bulat penuh ketika rasa syukur atas apapun yang menimpa diri mengalir bersama alunan kehidupan, ketika saya berusaha menggali kebahagiaan yang sebenarnya sudah Allah tumbuhkan di hati saya…dan berpadu dengan nuansa yang luar biasa, yang anggun mempesona, Cetho..akan jadi mahakarya kekayaan hati dari Sang Pencipta untuk hambaNya.
Wlaupun hanya kurang lebih 2 jam menikmati keindahan Cetho, namun hati rasanya tercuci bersih, paru2 rasanya teresusitasi dan otak terhipnotis dengan sempurna, dan satu hal yang kembali saya pikirkan…”harus kembali lagi ”
Tak kan jemu memandangmu
Mahakarya dari seorang Maestro yang Maha Agung
Keindahan yang sempurna


Komentar
Posting Komentar